
IndoTrik – Data center selama ini identik dengan gedung besar yang dipenuhi server dan sistem pendingin. Namun, konsep tersebut mulai berubah. Startup teknologi luar angkasa Starcloud sedang mengembangkan data center yang ditempatkan langsung di orbit untuk menjalankan komputasi kecerdasan buatan atau AI.
Starcloud baru saja mendapatkan tambahan pendanaan sebesar US$250 juta dalam perpanjangan putaran Series A. Pendanaan tersebut membuat valuasi perusahaan mencapai sekitar US$2,3 miliar dan akan digunakan untuk memperluas produksi satelit, mengembangkan sistem komputasi orbital, serta mengamankan kapasitas peluncuran.
Konsep Starcloud bukan sekadar rencana di atas kertas. Pada November 2025, perusahaan berhasil membawa NVIDIA H100 ke orbit melalui satelit Starcloud-1.
GPU kelas data center tersebut kemudian digunakan untuk menjalankan dan melatih model AI di luar angkasa. Starcloud juga melaporkan telah menjalankan versi Google Gemini di orbit serta melakukan pengujian inference dan fine-tuning menggunakan perangkat keras yang berada di luar Bumi.
Keberhasilan tersebut menjadi dasar bagi Starcloud untuk mengembangkan satelit dengan kemampuan komputasi yang jauh lebih besar.

Langkah berikutnya adalah Starcloud-2. Perusahaan berencana meluncurkan dua satelit generasi baru pada 2027 dengan kemampuan komputasi sekitar 8 kW.
Satelit tersebut nantinya dapat digunakan untuk menjalankan pekerjaan AI secara langsung di orbit. Salah satu manfaatnya adalah data dari sensor satelit dapat diproses terlebih dahulu di luar angkasa sebelum hasilnya dikirim ke Bumi.
Dengan cara tersebut, satelit tidak harus selalu mengirim seluruh data mentah dalam jumlah besar ke stasiun di Bumi untuk kemudian diproses.
Starcloud memiliki ambisi yang jauh lebih besar. Perusahaan mengajukan izin kepada FCC untuk mengoperasikan hingga 88.000 satelit dengan total kapasitas komputasi sekitar 20 GW.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Starcloud sedang membangun fasilitas produksi seluas sekitar 100.000 kaki persegi di Woodinville, Washington. Fasilitas ini akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi satelit generasi berikutnya.
Setelah Starcloud-2, perusahaan menyiapkan Starcloud-3 sebagai sistem komputasi orbital dengan kemampuan yang jauh lebih tinggi.
Starcloud-3 dirancang memiliki kapasitas daya komputasi sekitar 200 kW dan akan dilengkapi GPU, sistem pendinginan, serta perangkat untuk membuang panas yang dihasilkan server.
Starcloud menargetkan Starcloud-3 dapat diluncurkan menggunakan SpaceX Starship. Namun, ketersediaan kendaraan peluncur menjadi salah satu tantangan yang harus diperhitungkan karena perusahaan membutuhkan kapasitas peluncuran dalam jumlah besar untuk membangun jaringan satelitnya.
Starcloud melihat orbit sebagai lokasi potensial untuk mengatasi kebutuhan energi komputasi AI yang terus meningkat.
Satelit dapat menggunakan panel surya untuk menghasilkan listrik tanpa harus menghadapi siklus siang dan malam seperti pembangkit surya di Bumi. Lingkungan orbit juga tidak mengalami kondisi cuaca seperti awan dan badai yang dapat mengganggu produksi energi matahari.
Selain itu, pemrosesan data langsung di orbit dapat mengurangi kebutuhan mengirim data mentah dalam jumlah besar ke Bumi, terutama untuk aplikasi yang menggunakan kamera dan sensor satelit.
NVIDIA menjadi salah satu investor baru dalam pendanaan terbaru Starcloud bersama Cisco Investments. Keterlibatan NVIDIA juga berkaitan dengan pengembangan perangkat keras yang dirancang khusus untuk digunakan di luar angkasa.
Starcloud saat ini bekerja sama dengan NVIDIA dalam pengembangan Vera Rubin Space-1, chip yang dirancang untuk kebutuhan komputasi di orbit. Tantangan desainnya berbeda dengan GPU yang digunakan di data center Bumi, terutama dalam hal suhu, radiasi, perlindungan perangkat keras, dan kemampuan bertahan selama proses peluncuran.
Jika pengembangan tersebut berhasil, Starcloud ingin membangun jaringan data center orbital yang mampu menjalankan beban kerja AI secara langsung di luar angkasa.